Selamat Datang di web unit kegiatan siswa Jurnalistik Sekolah "Demofat-News" SMP Negeri 4 Kota Cirebon. Media publikasi Jurnalistik Sekolah ini berupa Mading, Facebook (Kabar SMP 4 Cirebon) dan Blog (demofat-news.blogspot)

25 Desember, 2009

ORANGTUA PERTANYAKAN UJIAN NASIONAL

Kendati pihak Depdiknas tetap akan menggelar Ujian Nasional (UN), namun orangtua siswa masih ada yang mempersoalkannya. Pasalnya, menurut mereka, hasil ujian masih terkesan dilecehkan oleh Pemerintah kota Cirebon dengan adanya tes masuk ke SMA/SMK Negeri di sekolah. Padahal UN merupakan hasil standar nasional.

“Ujian nasional itu kan hasil nilai standar nasional, tapi mengapa hasilnya di kota Cirebon ini terkesan dilecehkan karena siswa harus tes lagi kalau mau masuk SMA,” tutur salah satu orangtua siswa dengan nada bertanya dalam rapat orangtua siswa kelas IX dengan pihak sekolah SMP Negeri 4 Cirebon di sekolah setempat, Kamis (24/12).

Rapat dinas tersebut mengundang seluruh orangtua siswa kelas IX. Agenda rapat adalah sosialisasi program akhir tahun sekolah, khususnya tentang pelaksanaan ujian nasional tahun 2010. Rencananya, UN akan diadakan pada 29 Maret-1 April, UN susulan 5-8 April dan UN ulangan 17-20 Mei 2010. Jumlah pelajaran yang diujikan sama seperti tahun sebelumnya dengan nilai minimal 5,50.

Perwakilan orangtua lainnya juga mempertanyakan efektifitas ujian nasional tersebut. Menurutnya, hasil UN tidak ada bedanya antara siswa yang pinter dengan siswa yang bodoh, termasuk saat mendaftar ke SMA siswa yang disekolah asalnya kurang pinter malah bisa masuk. Sebaliknya siswa yang dianggap cerdas tidak bisa masuk.

“Bagi saya, berapa pun hasil ujian nasional itu gak masalah. Yang penting bagaimana upaya kita mendidik anak untuk tidak menyontek. Katakan saja kepada mereka kalau menyontek itu adalah sama dengan korupsi,” ujar orangtua siswa dengan nada keras.

Bagaimana tanggapan pihak sekolah atas pertanyaan itu? Kepala SMP Negeri 4 Cirebon Bapak Karnadi S.Pd M.Hum menjelaskan, bahwa dalam pelaksanaan ujian nasional tidak ada yang salah. Yang salah adalah guru atau sekolah yang mengintervensi siswa dalam pelaksanaan UN. Maka tahun 2010 ini UN tetap dilaksanakan kendati masih dalam proses hukum atas keputusuan Makamah Konstitusi.

“Ketika saya ketemu Pa Menteri (Mendiknas M Noeh, red) di Bandung bersama Pa Kadis (Dedi Windiagiri, red), Pa Menteri bilang bahwa UN tidak ada masalah. Yang masalah itu ada guru atau sekolah yang membantu siswa dalam UN. Maka tahun ini pemerintah tetap akan melaksanakan UN,” ungkapnya didampingi ketua Komite Sekolah Bapak Jaya dan Wakasek Kurikulum Bapak Tugiran, S.Pd.

Wakasek Kurikulum Bapak Tugiran S.Pd menambahkan, adanya tes masuk ke SMA Negeri di Kota Cirebon adalah upaya pemerintah kota untuk menjaga kualitas pendidikan di kotanya. Pasalnya tidak sedikit siswa luar kota hasil nilai ujiannya fantastis. Namun demikian, nilai UN tetap diperhatikan oleh disdik dengan prosentase penilaian ditambah hasil tes dan prestasi siswa.

“Sebenarnya upaya tes SMA Negeri disini untuk mengantisipasi siswa dari luar kota. Mereka nilai UN nya sangat besar, maka perlu ada tes ulang atas kemampuan siswa tersebut. Tetapi nilai UN pun tetap diperhitungkan dalam ujian masuk ke SMA Negeri setelah ditambah hasil tes masuk dan prestasi yang diraih siswa tersebut,” tuturnya. (*)